Rukyat Hilal
jumadil Uula 1448
Insya Allah bersumber dari cuplikan (screenshot) almanak daring KRHH:

Dapat kita ambil data dasar untuk merukyat kasat-mata tanpa alat:
- Tenggelamnya Bulan 1 jam 16 menit bada Matahari dengan beda azimuth 12°; Bulan di kiri Matahari (azimuth 270 = Barat), sekitar sebelah kiri dua telapak tangan vertikal dirempetkan dan diacungkan sejauh mungkin di depan kita (sisi kanan merempet titik di ufuk di mana Matahari tenggelam).
- Data adalah loco Makassar yang bisa dipakai se-Nusantara; cukup mengetahui saat tenggelam Matahari di lokasi rukyat Anda dan hadirlah selambat-lambatnya 30 menit sebelumnya guna memberi tanda-tanda sederhana yang dapat menunjukkan arah terbenam Matahari. Tidak butuh kompas.
- Gunakan panduan ini untuk memilih lokasi rukyat, namun karena sangat tingginya hilal (bahkan kebanyakan yang belum biasa merukyat akan menyangka yang dilihtnya adalah hilal hari ke-2), merukyatlah dari rumah/tempat masing-masing, sekaligus membiasakan diri.
- Salat magrib di lokasi, baru kemudian merukyat; jagalah pandangan agar tak terpapar yang terang-terang sejak menandai arah terbenam Matahari. “Yang terang-terang” termasuk segala jenis layar gawai, langit Barat dan lampu-lampu; bahkan hindari melihat yang dekat-dekat seperti jam tangan analog atau membaca.
- Senin 12.Okt.26 = 30.Rb2.48 bagi KRHH dan umumnya almanak-almanak natural yang kasat-mata murni; pada tanggal ini kebanyakan kalender hijri sudah tanggal 1 Jumadil Awal.
- KRHH menyebut SEMUA penanggalan yang berbasis kesepakatan (seperti KHGT atau ‘masehi’ bahkan MABIMS1) sebagai KALENDER. Asal-muasal ‘kalender’ dari Latin yang artinya lilin. Dahulu ketika belum ada lampu-lampu para rentenir menyalakan lilin di malam hari guna menghitung bunga.
- SEMUA penanggalan Qomariah yang berbasis kasat-mata-umum (dan NATURAL) disebut ALMANAK. Almanak berasal dari Inggris Almanac yang maknanya jadwal kejadian/acara yang nyata.
Korpus tak mengadakan pelatihan/kegiatan RH untuk kali ini.
36 menit pasca tenggelam Matahari, hilal sudah berada di latar belakang langit yang gelap sehingga memudahkan untuk dirukyat. Pada saat itu ia (hilal) diperkirakan sudah turun 9° menjadi ±15° ARCL di Makassar (karena cukup miring dianjurkan menerawang di ±10°); semakin Barat lokasi rukyatmu maka akan semakin tinggi ekspektasi ARCLnya, sebaliknya jika semakin Timur dari Makassar. Beda ARCL antara ujung Timur Nusantara dengn ujung Barat hanya 2-3°.
Ajakan Menarik
Hari sebelumnya, hari Ahad (malam Senin) 11 Oktober bada magrib jajallah merukyat, terutama di lokasi-lokasi Barat Nusantara, seperti Sumatra, Malaysia, Singapur, Myanmar. Sebab masuk zona biru KRHH yang masih memungkinkan kasat-mata-umum2.
- Mentri-mentri Agama Brunei Indonesia Malaysia Singapura; penanggalan kalender-kalender hijri ‘resmi’ di negara-negara itu berbasis kesepakatan pula, yaitu cukup dilihat lewat teleskop (bahkan CCD dan perangkat komputer), tak mesti kasat-mata-umum. ↩︎
- Jika nampak juga oleh 2 saksi (sebaiknya yang kurang berpengalaman), maka di lokasi itu lebih dahulu masuk tanggal 1. ↩︎
