Perbedaan mencolok antara hijri dengan gregorian-romawi2 adalah mulainya 00:00. Di gregorian-romawi, 00:00 (dan pergantian ke tanggal baru) di tengah malam bayangan; pada hijriah di pergantian siang dan malam3.
Kotak berwarna di atas angka tanggal (jika ada), dibagi 4 menurut GMT+8 (WITA).
Beda LAG4 antara Barat dengan Timur Nusantara berkisar 2 menit; tak berpengaruh bagi perukyat kasat mata. Oleh karena itu, data loco Makassar cukup (dan azimuth5). Terkadang diubah ke loco lainnya. Data tambahan cukup mengetahui saat terbit/terbenam setempat.
Ayyamul-bydh (hari-hari putih) di almanak KRHH sesuai data iluminasi aplikasi stellarium (bisa 2, 3 atau 4 malam). Shaumnya yaumul bidh tetap 3 hari dan tak mengapa digeser-geser hari mulainya, dianjurkan diamalkan 3 hari berturut-turut. Sayyidina ‘Ali Karamul-Wajha, Abu Darda RA dan para ahlush-shufah mengamalkannya demikian.
Bagi KRHH, kalender hijri yang memiliki tanggal sama untuk hari yang sama, serupa dengan kalender sipil lainnya.
Dianjurkan merukyat setelah salat magrib dahulu. Jika rukyat di hari ke-29, hilal biasanya sulit dirukyat dan berwarnakan mirip dengan latar belakang langitnya.
Karena penumbral, besar kemungkinan tak kentara atau tak jelas; Rembulan yang terkena penumbra bumi akan meredup saja dan tak berubah warnanya menjadi merah. Di Myanmar lebih penuh penumbralnya. ↩︎
Dikenal ‘masehi’–yang salah-kaprah–sebab Sayyidina ‘Isa AS pakai qamariah dan merukyat pula. ↩︎
Sebelum subuh tetap disebut ‘malam’ (tanda subh adalah bercampurnya warna kuning di langit Timur, yang PASTI setelah fajar). ↩︎
Jeda Waktu antara terbenam Matahari dengan terbenam Rembulan. ↩︎