Bukit Karang

Bukit Karang di Tengah Samudra

Apakah kita pernah memperhatikan bukit karang yang berdiri di tengah samudra luas?

Dari hari ke hari bukit karang menahan hempasan ombak dan hantaman gelombang, namun dengan gagah ia tetap tegak di tengah samudra yang amat luas; jika ada kapal yang menabraknya, tidaklah ia akan goyah walau satu jengkalpun, malah sebaliknya kapal yang akan musnah, hancur berkeping-keping. Ia tak serta-merta menjadi kokoh serta tahan banting dari berbagai hempasan ombak dan hantaman gelombang; bukit ini terjadi dengan adanya ‘kurban-kurban’! Perhatikan ia terdiri dari hewan-hewan, binatang-binatang kecil! Dari hari-ke hari pada mulanya hewan-hewan itu berhimpun dan menjadi kurban. Beberapa kali bukit itu hampir-hampir tiada, tapi kurban demi kurban, betapapun kecilnya tetap istiqomah berlangsung dan akhirnya….terbangunlah bukit karang di tengah samudra luas itu.

Pengorbanan demi pengorbanan telah diamalkan baginda Muhammad Rasulullah bersama para sahabatnya. Dari hari ke hari kurban beliau bersama kaum mu’minin betapapun kecilnya berlangsung terus (istiqomah, konsisten, steadfast), dihimpun dan dihimpun: pikirannya, hartanya, tenaganya, darahnya, waktunya, jiwanya.

Akhirnya dengan kurban-kurban yang itu terbinalah …...Innamal Mu’minuna ikhwatun; sesungguhnya orang mukmin yang satu atas yang lainnya saudara! Terbina sebagai bunyanun marshus, (كَأَنَّهُم بُنْيَٰنٌ مَّرْصُوصٌ) (surat as-shaff ayat 4), satu benteng yang kokoh dan kuat, berdiri tegak bagai bukit karang di tengah samudra, kuat dalam menghadapi segala lika-liku zaman. Untuk membina bukit karang yang kokoh dan kuat binatang-binatang itu tak ragu mengorbankan dirinya betapapun kecilnya! dan tetap mendapatkan penghargaan dari saudaranya.

Demikianlah, salah satu usaha membina kejayaan bangsa, agar tegak pada keagungannya, umat Islam tidak ragu memberikan kurban betapapun kecil adanya, bagi seorang Muslim bukan besar atau kecil yang menjadi ukuran utama tapi dasar Iman dan keikhlasan. Ia berkurban karena mengharap ridho Allah dan tak ada tujuan lain yang diharapkannya, sebab seorang Muslim yakin kullu ma’rufin shadaqah; setiap kebaikan adalah shadaqah, jika belum ada harta pada dirinya yang bisa ia shodaqohkan, maka dishadaqohkan ilmunya sebagai kurban; jika tidak ada ilmu pada dirinya, ia shodaqohkan tenaganya sebagai kurban pengabdiannya; sebagai usaha seorang Muslim mendekatkan diri untuk meraih ridho Allah, apapun yang ada dalam ridho Allah dilakukannya serta dibangkitkannya; sebaliknya tak ada dalam ridho Allah dijauhi, dihindarinya, ia kekang nafsunya, ditahan seleranya dan itu bagian dari kurban yang ia serahkan kepada Allah. Menahan diri dari berbuat maksiat adalah salah satu kurban utama bagi kesejahteraan umat.

Satu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah memohon pertolongannya, tapi rupanya pada hari itu Rasulullah sedang tidak memiliki apa-apa walau sedirham pun: maa indii syai’un , tidak ada padaku sesuatu. Tapi silakan berbelanjalah engkau atas jaminanku, maka jika telah datang sesuatu (rizki) padaku akan ku bayar ia (belanjaannya). Demikian nabi kita memberikan uswah (suri tauladan) betapa seorang Muslim cinta berkurban agar dapat menopang sesamanya, walaupun hanya nama saja yang digadaikannya untuk saudaranya.

Semangat binatang karang, semangat yang tiada memandang dirinya kecil, semangat yang tiada memandang sesuatu kurban itu kecil; betapapun kecilnya, tiada ditahanya tidak dikikirkannya, tapi tetap dibaktikannya demi terbentuknya bukit karang di samudra.

Kini, pernahkah kita berkurban seperti Rasulullah S.A.W. tadi? Seperti para sahabatnya R.A.? Semangat binatang karang yang senantiasa berkurban. Betapapun kecilnya, demi tegaknya syi’ar.

Allah S.W.T. senaniasa menghargai setiap kurban yang dibaktikan hamba-hamba-Nya meskipun terletak dalam himpitan batu karena kecilnya. Tetap menjadi catatan kebaikan….wa man yakmal misqoladzarotin khoeron yaroh, (surat Az-Zalzalah ayat: 7) dan barangsiapa yang berbuat kebaikan walaupun sebesar dzarroh (atom) akan melihat hasilnya kelak, kita akan bangga dan terheran-heran, betapa binatang karang yang kecil itu akan demikian berartinya bagi satu bukit karang yang kokoh di samudra.

Yang kuat menahan segala gelombang dan hempasan ombak dari masa ke masa.

Wallahu a’lam

19 September 2026