Rukyat Hilal
Safar 1448
Insya Allah bersumber dari cuplikan (screenshot) almanak daring KRHH:

Dapat kita ambil data dasar untuk merukyat kasat-mata tanpa alat:
- Posisi Bulan di atas Matahari (dengan beda azimuth 1° jika dilihat dari posisi terbenamnya masing-masing), yaitu sekitar selebar tebal jari kelingking kita masing-masing diacungkan sejauh mungkin di depan kita. Dianjurkan sudah berada di lokasi rukyat anda selambat-lambatnya 30 menit sebelum terbenam Matahari; terutama guna memberi/mengambil tanda-tanda sederhana yang dapat menunjukkan arah terbenam Matahari. Tidak butuh kompas. Gunakan panduan ini untuk memilih lokasi rukyat.
- Baik Matahari maupun Bulan terbenamnya agak ke Utara (azimuth 270° = Barat), yang dengan data loco Makassar dekat sekali atau hampir sama dengan arah kiblat di sana yang berada di kisaran 292,4-292,5°. Arah kiblat ini tak jauh jika ditilik dari ujung Barat ke ujung Timur Nusantara, sehingga untuk kurang lebihnya cukup mengetahui arah kiblat di lokasi rukyat masing-masing.
- Lag (jeda Waktu antara terbenamnya Matahari dengan Bulan) di Makassar = 1 jam (60 menit)1, dikurangi 12 menit (bersumber dari metoda Kastner2) = 48 menit; yang berarti di Makassar posisi Bulan ketika mulai dapat dikesani oleh mata telanjang ada di kisaran 48/4 = 12°3 di atas ufuk bayangan (ini kurang lebih sama dengan setinggi telapak tangan anda dimiringkan horizontal diacungkan di depan mata sejauh mungkin, dengan batas bawah diletakkan sekitar ufuk bayangan, namun untuk amannya, mari kita gunakan 2-4 jari mendatar4).
- Sebagai perbandingan, di Lhok Nga, Provinsi Aceh (Barat Indonesia), lag-nya 63 menit dan di Timur Indonesia di Merauke lag-nya 56 menit. Lebih jauh lagi jika dilihat se-Nusantara: di Mandalay, Myanmar = 65 menit dan di Honiara, kepulauan Solomon 53 menit. ↩︎
- Metoda saintifik yang memperhitungkan kemungkinan dapat dilihat kasat mata (langit jernih dan mata normal, rata-rata hilal baru dapat masuk ambang dapat dilihat setelah 10 menit dari terbenamnya Matahari; KRHH mengambil batas minimum 12 menit). Berbetulan (syukur Alhamdulillah), ‘batasan’ yang merujuk metoda Kastner ini memungkinkan para perukyat kasat mata untuk melakukan salat magrib dahulu; dianjurkan untuk salat terlebih dahulu dengan tenang, baru mengarahkan pandangan berusaha mengesani hilal. ↩︎
- Karena gerakan Bulan di wilayah tropis berkisar 4 menit per derajat. ↩︎
- Karena hilal PASTI sudah semakin turun ketika dapat dikesani; perkiraan saya dari pengalaman, baru setelah paling sedikit 40 menit dari terbenam Matahari, hilal dapat dikesani secara umum. ↩︎
Semoga berhasil berburu hilalnya! KRHH tak mengadakan pelatihan/kegitan RH untuk kali ini; Alhamdulillah dengan lag sedemikian, hilal berada di latar belakang langit yang sudah cukup gelap (kontras dan mudah dikesani di mana saja, walaupun di belakang awan-awan tipis). Kunjungilah laman RH kami, bergabunglah di grup WA khusus RH kami atau tinggalkan data kontak anda di formulir daring ini.
For English kindly use automatic translations, then if in need of clarity, email info@krhh.or.id or message us in this group.
