RAYAGUNG 1447

Rayagung 1447

Miris, memang … katanya “hari raya agung” … begitulah istilah lain dari ‘iedul Adha alias ‘lebaran haji.’

Namun kebanyakan masih ‘tertidur’ tak sadar, walau di dalam lingkungan komunitas ‘kasat-mata-umum’ sekalipun; termasuk KRHH. Permasalahannya bukan di tak sadarnya–toh yang tergabung di grup telegram KRHH semuanya memiliki hasrat ‘bangun!’ Sebuah plus besar!

Begitulah yang terjadi (menurut pandangan saya pribadi) di ‘ied Adha 1447 ini; padahal sudah diperingatkan dari sejak Syawwal 1447, bahwa ‘ied adha kali ini bakal berbeda dengan versi MABIMS (satu hari setelah ‘versi pemerintah’). Grup pun SEPI dari warta-warta yang mengadakan ‘ied 1447h pada hari Kamis 28 Mei 2026.

‘Agung’kah? Tentu tidak.

Sampai post ini dipugar, yang telah berusaha sendiri dengan setidaknya melaporkan tempat-tempat ‘ied 28 Mei, baru lima! 5 orang? Sedikit sekali perhatiannya! Saya pribadi yakin ada lebih banyak dari 3 di Indonesia (yang mengadakan ‘ied adha 28 Mei 2026).

Laporan yang benar-benar sesuai dengan kasat-mata-umum pun ada dari Brunei dan dari Thailand); belum dari seluruh Nusantara (yang menurut KRHH tak hanya Indonesia). Berikut dirangkum sesuai kronologi:

  1. Brunei Darussalaam. Terimakasih laporan dari Ayuni Kimetsu (nama alias). Brunei secara resmi mengumumkan (artinya mayoritas rakyatnya bakal ‘ied Kamis). Ini diputuskan selagi pada tanggal 17 Mei sunset, memenuhi kriteria MABIMS (yang ARCL ≥6,4°, sedangkan di seluruh Brunei berkisar 7). Menurut sejarah sepak-terjang penentuan-penentuan hari-hari ‘ied di Brunei, telah kerap kali diputuskan sesuai dengan kasat-mata-umum, Alhamdulillah.
  2. Tegalsari, Jawa Tengah, Indonesia. Terimakasih laporan dari Muslihuddin. Masjid Tegalsari sudah sejak lama mengadakan salat-salat ‘ied yang sesuai kenampakan hilal secara kasat-mata-umum; didukung dengan kegiatan rukyat bulanan yang jika tak nampak, merujuk pada laporan-laporan yang sah kasat mata dari sisi Timur.
  3. Padang Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia. Terimakasih laporan dari Rizqi Adi di Payakumbuh. Komunitas Nurul Yaqin pun terdukung dengan “rukyat bil fi’il.”
  4. Klapanunggal (Bogor), Jawa Barat, Indonesia. Terimakasih laporan dari Mere (nama alias).
  5. Thailand di video di bawah ini.

Selanjutnya pada kesempatan ini baik disampaikan bahwa ‘ied Adha dahulunya lebih ke pesta rakyat. Dianjurkan untuk ramai-ramai memasak dan menyantap daging-daging qurban di sekitaran komunitas/khalayak/masyarakat di lokasi-lokasi yang ada penyembelihan qurban1. Juga bagi daging-daging qurban yang disimpan/diberikan ke individu/kelompok/keluarga yang berqurban, sebaiknya dimasak dan disantap sendiri dan/atau dikirim ke tetangga-tetangga sekitar2.

Akhir kata: mari kita maksimalkan kebersamaan kita! Selain secara daring, secara nyata pula! Ditunggu pejuang-pejuang hakiki; mari bergerak bersama.

  1. Ini pada prakteknya akhirnya melahirkan dapur-dapur umum. ↩︎
  2. Yang tak mesti sesuai ‘delapan asnaf,’ bahkan tak mesti ke handai-taulan/tetangga-tetangga yang beragama Islam. Pernah dibahas di FDx2 KRHH pada 16 April lalu (klik untuk rekamannya); yang pula terbahas: baitul maal, badan-badan ZIS, zakat pada umumnya, zakat fitrah, zakat maal, sidqoh (sedekah), khutbah terpendek dalam catatan sejarah (yang diberikan/disampaikan Syekh Abdul Qadir Jailani). Hadirin di FDx2 tersebut pun menggambarkan ‘kemiskinan’ gerak; budaya ‘MAGER’ kah yang mempengaruhi? ↩︎
pononyono