Ramadan 1447h
English below
- di Nusantara versi KRHH, ada hari pertama 18.feb.26 (tarawih pertama 17.feb.26), ada pula
- hari pertama 19 (tarawih 18), bahkan berpotensi ada
- hari pertama 20 (tarawih 19).
Umumnya dipandang bahwa yang atas (dan paling awal memulai tarawih/shaum) berlandaskan ‘hisab’ dan yang tengah-tengah berlandaskan ‘rukyat.’ Mari kita tilik bahwa ketiga-tiganya sebenarnya ‘melihat’ (alias rukyat). Dengan CARA apakah melihatnya? Yang dua atas ibaratnya melihat bayi yang belum lahir melalui USG. ADA bayinya, namun belum lahir.
Bedanya yang teratas dengan yang kedua adalah penggunaan alat USG-nya. Lebih peka yang atas. Yang kedua katakanlah ibarat USG yang dilakukan pada saat berada di bidan/dokter/RS ketika sedang mules-mules menunggu kelahiran; tak perlu USG yang peka/canggih/bagus.
Yang ketiga bayinya sudah lahir dan tali ari-arinya sudah lepas. Ia adalah kasat-mata-umum. Mesti benar-benar orang-orang umum (dan normal) yang melihat hilal dengan mata kepalanya sendiri. Siapapun dapat menerima (dan merujuk) laporan-laporan yang benar-benar kasat-mata-umum dari sisi Timur lokasinya.
Cobalah upayakan melihat sendiri; pada bada magrib di 17, 18 dan 19 (pada 19 bahkan bisa sampai waktu ‘isya, dikarenakan lag-nya). Semoga cerah.
KRHH tidak menentukan mulainya Ramadan untuk siapapun, termasuk anggota. Setiap insan menentukan sendiri. Ketiga-tiga cara di atas ada landasan syar’i masing-masing.
Selamat shaum, mari kita arungi bulan berkah bersama.
Catatan: Bagi yang berperjalanan ke Arab Saudi di bulan Ramadhan, insya Allah penanggalan hijri di sana diperkirakan seiring dengan kasat-mata-umum di Arab Saudi, walau penanggalannya ditentukan melalui cara-cara lain.
ENGLISH
- in HHRC’s version of Nusantara, there are some who start their fast on the 18th of February 2026 (first taraweeh 17th), and there are
- some who start on the 19th (first taraweeh 18th), even some who start
- on the 20th (first taraweeh 19th).
Commonly it is seen that the top most are based on calculations (hisaab) and the second one ru’ya. Let’s see all as a form of sighting. IN WHAT WAY it was ‘sighted?’ The two topmost are alike ‘seeing’ a baby in a mother’s womb through an Ultasound device. Yes, the baby is THERE, but it has not born yet.
The topmost used a more sensitive USG, long before labour pains. The second is using a less capable USG whilst the mother is having labour pains in the Hospital.
The third: the baby is born (and the placenta gone). This is sighting publicly with our own naked eyes. Absolutely ANYONE ‘normal’ (the average person) can see the hilaal with his/her own eyes. Everyone can accept any naked-eye reports Eastwards form his/her location.
All three sighting ways above have their bases in shariah, everyone please decide (make a choice) for themselves.
Let us welcome the month of baraaka, happy fasting.
Notes: West Myanmar (Burma) may publicly sight the hilaal (first moon crescent) earlier by a day compared to the rest of Nusantara. For those who travel there during Ramadhan, the Ramadhan month in the Kingdom of Saudia Arabia–albeit decided by the government there, sighted through telescopes and CCD’s or by the Ummul Qura hijri calendar–is estimated to concide with real naked-eye sighting in that country.
