Sejarah & Harakah

Digagas Ahmad Adjie sejak 1994 pulang studi di Perth, Australia–yang seaslinya 19921–namun sangat terbatas utamanya karena situasi kondisi ‘Rukyat Hilal’ di tanah air (Indonesia) yang bak langit dan bumi ketimbang di Perth; di sana, keutamaan merujuk penanggalan hijri melalui pengamatan kasat mata langsung dan dilakukan umum menjadi perhatian utama2.

Sebaliknya di Nusantara3, rukyat cukup sirri (tak nyata) saja, bahkan tak diperhatikan. Tentu yang sirri pun sah dan ada landasannya4; sedangkan sebagian khalayak mau yang ‘nyata’ kembali! Pembiasaan ini butuh latihan dan pengalaman. KRHH hadir untuk memudahkan yang nyata tegak kembali baik di tempatan anda, di Indonesia, di Nusantara maupun di dunia. Jika anda mempunyai perhatian dan kepedulian ke arah ini, hubungi KRHH, bergabunglah ke grup Telegram ini, atau jadilah anggota (coba lihat laman krhh.or.id/organisasi).

KRHH melayani masyarakat pada umumnya. Anggota-anggotanya peduli bagaimana agar ragam acara, layanan dan kegiatan KRHH:

  • Menggapai segenap lapisan masyarakat.
  • Mengembalikan peranan ilmu falakiyyah ke fardhu kifayyah5.
  • Mengembalikan resapan kauniyah Ilahi6.
  • Memberikan penerangan yang menyatukan walau hari/tanggal/Waktu berbeda.
  • Mewadahi komunitas kasat mata dan ‘urfi; serta menyediakan diri sebagai sumber masukan bagi pemerintah & komunitas/organisasi di luar negri.
  • Membantu TNI di wawasan falakiyyah yang akan memudahkan operasi di lapangan7.
  • Mencerminkan Bhinneka Tunggal Ika.
Dahulu dikenal dengan Konsorsium Rukyat Hilal Hakiki.
  1. Selama dua tahun berupaya menularkan rukyat kasat mata yang hakiki, Alhamdulillah berhasil di banyak tempat termasuk di Masjid tempatan. Bersama DKM dan Karang Taruna tempatan pernah ikut sidang itsbat sebagai pengamat, dan mengalami langsung bagaimana sidang itsbat menetapkan: yaitu cukup dengan pengakuan 2 saksi & diangkat sumpah! ↩︎
  2. Bukan saja di Perth dan di segenap penjuru di Australia, di mancanegara dan di Nusantara pula kasat-mata-umum masih diperhatikan di kantong-kantong masyarakat. Di Perth setiap bulan–tak hanya Ramadan, Syawwal dan Dzulhijjah, sebagian masyarakat (biasanya jamaah masjid) urunan mengongkosi sendiri untuk pergi merukyat berangkat dari masjid-masjid jami’; terkadang 2-3 kendaraan berisi 3-5 orang per masjid berangkat ke berbagai lokasi di luar kota Perth (padahal langit di Perth dan sekitarnya sudah jernih), bahkan jika jauh lokasi rukyatnya sekalian berkemah dan menginap. ↩︎
  3. ‘Nusantara’ bagi KRHH lebih luas dari Indonesia; di negara-negara ASEAN khususnya MABIMS (Mentri-mentri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura) pun kala itu menetapkan/menyepakati kriteria minimum elongasi toposentrik 3° (kini 6,4°), yang jelas-jelas dua-duanya tak kasat mata. Catatan: syukur di Thailand masih menggunakan kasat mata yang hakiki. ↩︎
  4. Mudahnya: cocok dengan perintah peringkat kedua di Qur’an. ↩︎
  5. Wajib bagi sebagian di antara komunitas/khalayak, misalnya pengurusan mayat, menjadi imam/khatib, menjadi guru, paham ilmu faraid, dlsb. ↩︎
  6. Memperhatikan alam natural di sekitar kita sama dengan mengenal tanda-tanda Allah. ↩︎
  7. Wilayah operasi TNI sering tak tersedia masjid/musholla/langgar, kerap tak ada azan dan miskin air; bahkan berlokasi di pelosok-pelosok/hutan, dengan masa operasi yang berbulan-bulan jika tak bertahun-tahun! Bagaimana menentukan waktu salat? Bagaimana menentukan kiblat tanpa kompas/GPS (misalnya sedang tugas recon)? Bagaimana bersuci dengan irit sekaligus menkonservasi air dan bagaimana airnya? Bagaimana menentukan hari-hari penting Islam? Anggota-anggota KRHH siap mendampingi jika perlu (dianjurkan ada pelatihan di setiap batalion). ↩︎
panaitankrhh1 croplevel
Salah satu cikal-bakal kegiatan Hilal Camp (HC). Pulau Panaitan.